ASAL MULA PELABUHAN RATU
Hal
yang mengherankan adalah sebagian besar penduduk setempat, termasuk
angkatan udzur, seperti menemui kabut tebal ketika menceritakan asal
mula Palabuhanratu. Kebanyakan hanya akan bangga dengan kata 'Ratu' yang
berarti besar dan mulia. Apakah karena kurangnya tradisi lisan untuk
sekedar menceritakan silsilah nenek moyang orang Palabuan? Ingatan
terjauh menyangkut sejarah Palabuan biasanya mentok pada pembangunan
jembatan Bagbagan pada masa Ratu Yuliana. Berarti itu jamannya
penjajahan Belanda. Bagaimana sebelum itu? Sejauh mengenai karuhun ini,
malah terjadi anomali dengan banyaknya penduduk luar Palabuan, khususnya
Bogor, yang berburu karuhun di
Palabuhanratu. Mengapa demikian?
Ada tiga hal lagi yang menjadi catatan penting sekitar asal muasal
Palabuhanratu. Pertama adalah situs megalitik Tugu Gede Cengkuk, di
Cikakak. Menilik tampilan megalit-nya, kemungkinan adalah peninggalan
masa neolitikum sekitar 10.000 SM (masih hipotetif). Setidaknya kajian
mengenai situs ini masih sama gelapnya dengan temuan punden berundak di
Gunung Padang Cianjur. Hal kedua adalah Samudra Beach Hotel yang
dibangun Bung Karno. Tentu saja dengan kamar khusus 308-nya. Yang ketiga
adalah - hari hari ini mulai mendapat perhatian - keberadaan komunitas
Cipta Gelar dengan acara tahunan Seren Taun. Sebenarnya ada hal terakhir
yang menjadi 'ciri khas' daerah ini. Yaitu Ma Erot : Penis Enlargement Sepecialist.
Nampaknya periode Pajajaran Runtag (runtuhnya Pajajaran) menjadi titik
awal berdirinya Palabuhanratu. Masa keemasan Pajajaran terjadi ketika
Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi bertahta antara tahun 1482 -
1521. Setelah itu perlahan lahan pamornya memudar. Pada masa
penggantinya, Prabu Surawisesa (1521-1535), Pajajaran telah kehilangan
hampir separuh wilayahnya ( termasuk Cirebon, Galuh, dan Sunda Kalapa).
Raja raja setelahnya belum juga menunjukan kualitas setara Siliwangi.
Berturut turut seetelah itu adalah Prabu Ratu Dewata (1535-1543), Ratu
Sakti (1543-1551), Prabu Nilakendra (1551-1567) dan Raja terakhir adalah
Prabu Raga Mulya Suryakancana (1567-1579). Pada masa Nilakendra, Pakuan
sebagai ibukota Pajajaran sudah mulai di tinggalkan penduduk kota. Pada
tahun 1579 Pakuan jatuh ke tangan Kesultanan Banten yang dipimpin
Sultan Maulana Yusuf.
Yang menarik adalah Pajajaran runtuh oleh perang antar cucu cicit Prabu
Siliwangi. Boleh dikatakan, ini perang konyol antar saudara sendiri.
Bila dirunut, maka kita bisa memulainya dari berdirinya Kesultanan
Cirebon. Kesultanan Cirebon pada mulanya didirikan oleh Pangeran
Cakrabuana atau Raden Walangsungsang. Raden Walangsungsang adalah anak
Prabu Siliwangi dari istrinya yang muslimah, Subang Larang. Adik-adik
Raden Walangsungsang adalah Nyai Lara Santang dan Raden Sangara. Dari
Nyai Lara Santang lahirlah Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan
Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati menjadi sultan menggantikan
Pangeran Cakrabuana alias Raden Walangsungsang. Salah seorang putera
Sunan Gunung Jati yang bernama Maulana Hasanuddin menjadi sultan pertama
di Kesultanan Banten. Sultan Hasanuddin kemudian digantikan oleh Sultan
Maulana Yusuf, yang kemudian membumi-hanguskan Pakuan disaat Raga Mulya
Suryakancana bertahta. Bukankah ini perang antar teureuh Pajajaran,
keturunan Prabu Siliwangi ?
Kita tidak akan mempersoalkan latar belakang perang antar teurueh
Pajajaran itu. Yang Jelas ibukota Pakuan memang dibumi-hanguskan oleh
pasukan Kesultanan Banten pada saat itu. Prabu Raga Mulya menyingkir ke
luar kota bersama dengan para pengikutnya. Melihat gelagat jaman,
pengikut dan rakyat yang masih setia mengikutinya, akhirnya Prabu
Siliwangi V ini berpidato dihadapan mereka. Sebuah pidato perpisahan
monumental. Orang kemudian mengenang dan mengenalnya dengan Wangsit
Siliwangi. (bersambung)
Komentar
Posting Komentar